Rabu, 25 Maret 2015

dua hari setelah di imunisasi anakku meninggal

Tahun 2012 merupakan tahun yang penuh sejarah bagi kami. Karena pada tahun itu banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yaitu peristiwa bahagia dan disusul dengan kisah sedih dibulan oktober 2012. 
Yaitu dengan meninggalnya putra kami yang ke dua, yang secara tiba-tiba dan tak kusangka sebelumnya karena nggak ada gejala sakit sebelumnya anak kami sehat-sehat saja.
Anakku sudah berumur 6 bulan. Perkembangannya sangat pesat tubuhnya gemuk sehat kulitnya kencang. Dalam kesehariannya dia selalu ceria nggak pernah rewel dan jarang sekali nangis. Dan dia sudah seminggu bisa jalan pakai lutut dan tangan (bahasa jawanya mbrangkang).
Pagi itu hari minggu tgl 14 oktober 2012 saatnya anak kami mendapatkan vaksinasi. Kami datang ke tempat bidan desa langganan kami. Saat itu jatah anak kami diberi imunisasi DPT2. Dan di suntikkan di bagian paha kiri sebelah depan. Nggak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini anakku menangis kaya orang kaget dan susah di diamkan. Itulah awal dari kepergian anak kami, hingga sampai saat ini aku kalau teringat masih sangat sedih.
Usai di imunisasi malamnya anak saya samasekali nggak tidur. Nangis terus badan panas dan nggak bisa lepas dari gendongan. Maka keesokan harinya langsung kami bawa ke dukun bayi. Tapi sambil berangkat kami mampir ke bidan tempat imunisasi kemarin dan menceritakan kejadian semalam usai di imunisasi sambil minta pertimbangan apkah boleh kalau kami bawa ke dukun untuk di pijat. Dan bidan pun memberikan ijin asal bagian yang disuntik jangan di pijat.
Sampai di tempat dukun bayi kamipun menceritakan kronologi kejadian anak kami sambil minta pendapat bagusnya bagaimana. Lalu si dukun bayi mengatakan kalau ini di pijit nggak apa-apa, toh imunisasinya sudah kemarin jadi obatnya sudah larut. Dan kamipun mempersilahkan agar anak kami di pijit.
Sesudahnya lalu kami pun pulang. Badan anak kami makin panas, muntah terus disertai diare yang nggak henti-henti. Aku panik menghadapi itu sedirian. Tapi yang bikin aku agak tenang adalah disaat seperti itu anakku masih bisa tertawa-tawa sambil bilang ma'em. Aku masih terus kasih susu supaya perutnya nggak kosong.
Karena diare dan muntah serta panas yang nggak juga turun aku coba kembali bawa ke bidan. Disana diukur suhu anakku pencapai 40,5 dan anakku masih bisa tertawa subhanallah...sungguh kamu tegar sekali nak.
Kami pun pulang bawa obat dan alhamdulillah muntah-muntah nya mulai reda. Hingga akhirnya jam 2siang aku mau beri dia makan tapi tatapan anakku kaya nggak fokus. Aku langzung bawa lari ke puskesmas dan langsung di rujuk ke rumahsakit.
Sekitar perjalanan setengah jam ke rumah sakit saya rasa anak kami masih biasa-biasa saja. Tapi sampai di UGD anak kami langsung nggak sadarkan diri. Aku coba bertanya pada dokter kenapa anakku sampai begini. Apakah efek dari imunisasi? Tak ada jawaban dari dokter. Malah disuruh terus berdo'a supaya diberi kesembuhan oleh Allah. Dan kami hanya bisa berdo'a memohon kepada Allah. Tapi mungkin Allah berkehendak lain, anak kami nggak kunjung siuman. Hingga doktet menyarankan untuk dibawa ke rumahsakit besar yang mempunyai alat fentilator untuk membantu pernafasan jika nantinya tetjadi gagal nafas.
Setelah lobi sana nini untuk mencari rumahsakit yang kosong, terpilih lah satu rumah sakit di semarang yang mempunyai peralatan memadai. Disana saya langsung di sodorkan surat-surat untuk saya tandatangani. Yang isinya antara lain adalah menyerahkan wewenang untuk di tangani oleh tim dokter, juga pemasangan alat serta pemberian obat dan lain- lain termasuk kesanggupan biaya. Tanpa pikir panjang aku tandatangani semuanya. Yang penting anak saya bisa sembuh. Padahal saat itu aku nggak punya uang, tapi apapun akan saya lakukan untuk kesembuhan anak saya termasuk nyawa pun akan aku berikan. Setelah itu masuklah anakku di UGD. Disana anakku nggak juga mengalami perubahan. Malah makin drop hingga harus di pasang fentilator atau alat bantu nafas. Seakan-akan nggak tega aku melihat anakku dipakaikan alat-alat seperti itu. Anak sekecil itu, darah dagingku, terkapar di UGD yang dingin, tangannya penuh tusukan infus, mulutnya     dimasukin selang-selang oksigen dan fentilator. Masyaa Allah tak tega aku menyaksikan itu semua. Rasa-rasanya dunia ini mau kiamat aja.
Semalaman anakku di UGD nggak makin membaik malah kondisinya makin menurun. Hingga esok hari jam5 pagi  anak saya di periksa katanya sudah nggak ada respon caha. Dan doktet menganjurkan supaya kami semua berpamitan dan minta ma'af. Dan akan melepas alat fentilator(alat bantu nafas) karena sebenarnya anakku sudah meninggal tapi tubuhnya masih hidup katena fentilator. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun... Setelah fentilator di lepas anak kami pun benar-benar dinyatakan meninggal. Kami semua menangis. Tak menyangka anak kami akan meninggal semudah itu.
dua hari setelah di imunisasi anakku meninggal
Tapi ini semua sudah ketentuan dari sang Khaliq. Kami hanya bisa menjalaninya dan berusaha untuk tabah dan mengiklaskan kepergian anak kami. Semoga kelak kami dapat bertemu kembali dalam surgaMu yaa Allah. Aamiin...

8 komentar:

  1. Sekedar meralat, yang dirawat semalam itu bukan di UGD, tetapi di ruang ICU, tp aku sudah tak sanggup untuk mengedit lagi, krn begitu berat bila memvaca tulisan ini. Ada lagi yg salah ketik seharusnya dokter tp di tulis "doktet". Harap maklum

    BalasHapus
  2. Sudah 6 taguntbsca ini nangis lagi

    BalasHapus
  3. Kok saya jd takut ya mas mbak, kemarin anak saya imunisasi dpt1 polio1, td pagi saya pijatkan karna ngak tahu, badanya ngak panas sih cuma dia kaget2 aja, mohon shareingnya itu efek imunisasi atau efek lain?? Makasih

    BalasHapus
  4. Kok saya jd takut ya mas mbak, kemarin anak saya imunisasi dpt1 polio1, td pagi saya pijatkan karna ngak tahu, badanya ngak panas sih cuma dia kaget2 aja, mohon shareingnya itu efek imunisasi atau efek lain?? Makasih

    BalasHapus
  5. Yah ini memang sudah takdir kami mb,ms,dan kebetulan jalan anak kami melalui imunisasi. Kami cuma berusaha tabah. Tapi tadi baca ini lagi msh netes aja air mata ini. Dan mudah mudahan saja anak mb,ms,Baik-baik saja.

    BalasHapus
  6. Sedih banget bacanya.
    Yang tabah ya mas

    BalasHapus
  7. Untuk pijat bayi setelah di imunisasi minimal 48 jam setlah di pijat

    BalasHapus