Senin, 30 Maret 2015

two days after my son died in immunization


The year 2012 was a year full of history for us. Because in that year many important events occurred that happy event continued with a sad story October 2012.
That is the death of our child into two, which suddenly and never expected before because there are no symptoms of illness before our children healthy.

My son is 6 months old. Rapid growth of healthy skin toned body fat. In day-to-day he is always cheerful never fussy and rarely cried. And he had a week to street wear knee and hand (mbrangkang Java language).

Sunday morning on October 14, 2012 it's time our children get vaccinated. We came to our village midwife subscription. At that time we were allotted DPT2 child immunization. And injected at the front of the left thigh. Unlike before, this time my son cry rich people were surprised and hard to leave. That was the beginning of the departure of our children, until recently I was very sad when I remember.



After immunization night at my son did not sleep at all. Cried the body continues to heat and can not be separated from the operator. Then the next day we were immediately brought to the shaman. But while we were stopped by a midwife leave immunization yesterday and said what happened last night after in immunization while asking What considerations should we take it to the shaman for a massage. And midwives also provide original permit injection is done in a massage.
Up in TBAs we also tell our children the chronology of events when he asked how good opinion. Then the midwife said that this is in the massage is okay, immunization retains late yesterday that drug. And we also allow our children to massage.

Then later we went home. Our subsidiary bodies hotter, vomiting with diarrhea who endlessly. I panicked face alone. But it makes me a little quiet as it was when my son was able to laugh saying ma'em (eat in java). I still love milk so no empty stomach.
Because diarrhea and vomiting as well as not too hot down I tried to take it back to the midwife. There is a measured temperature of 40.5 and children's achievement I can still laugh Subhan Allah ... really hard once you child.

We went to the house to take his medication and thank God vomiting subsides. Until hours 2pm I want to feed him but the rich do not focus my eyes. I take a run to the clinic and refer directly to the hospital.

About a half hour drive to the hospital I think our kids are still mediocre. But up in the emergency room of our children live unconsciously. I tried to ask the doctor why my son like this. What is the effect of immunization? No answer from the doctor. Conversely said to continue to pray that God-given healing. And we can only pray, ask God. But maybe God wanted another, our children do not go drunk. Until doctor advised to take to the major hospitals which have fentilator tool to assist breathing if later of respiratory failure.

Once there nini lobby to find an empty hospital, the hospital was selected in Semarang who have the proper equipment. There I stayed in the hands of paper for me to sign. Which among others is to delegate authority to be handled by a team of doctors, as well as installation of equipment and provision of medicines and others, including the ability to fill. Without thinking I signed everything. The important thing my son could recover. And then I do not have money, but what else would I do to cure my child including their lives I would give it. After my son entered in the ER. There, my son did not change. Even more down to be in pairs fentilator or breathing aids. As if I did not have the heart to see my son applied a tool like that. As a small child, my flesh and blood, lying on the cold ER, a hand full of puncture infusion, oral incorporated oxygen hose and fan. Oh my God I can not stand to see it all. It felt as if the world would end in writing.

My night in the ER did not improve his condition even decreased. Until tomorrow morning at05.00am my son in check him no response of eye. And doctor suggest that we all say goodbye and apologize. And will release a tool fentilator (breathing aids) because in fact my son was dead, but his body still alive fans. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun ... After fentilator our son really was pronounced dead. We were all crying. Never thought our son would die so easily.

But this is all provisions Khaliq. We can only live and strive to be steadfast and departure let our children. Hopefully one day we can meet again in your heaven oh God. Aamiin ..

Rabu, 25 Maret 2015

dua hari setelah di imunisasi anakku meninggal

Tahun 2012 merupakan tahun yang penuh sejarah bagi kami. Karena pada tahun itu banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yaitu peristiwa bahagia dan disusul dengan kisah sedih dibulan oktober 2012. 
Yaitu dengan meninggalnya putra kami yang ke dua, yang secara tiba-tiba dan tak kusangka sebelumnya karena nggak ada gejala sakit sebelumnya anak kami sehat-sehat saja.
Anakku sudah berumur 6 bulan. Perkembangannya sangat pesat tubuhnya gemuk sehat kulitnya kencang. Dalam kesehariannya dia selalu ceria nggak pernah rewel dan jarang sekali nangis. Dan dia sudah seminggu bisa jalan pakai lutut dan tangan (bahasa jawanya mbrangkang).
Pagi itu hari minggu tgl 14 oktober 2012 saatnya anak kami mendapatkan vaksinasi. Kami datang ke tempat bidan desa langganan kami. Saat itu jatah anak kami diberi imunisasi DPT2. Dan di suntikkan di bagian paha kiri sebelah depan. Nggak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini anakku menangis kaya orang kaget dan susah di diamkan. Itulah awal dari kepergian anak kami, hingga sampai saat ini aku kalau teringat masih sangat sedih.
Usai di imunisasi malamnya anak saya samasekali nggak tidur. Nangis terus badan panas dan nggak bisa lepas dari gendongan. Maka keesokan harinya langsung kami bawa ke dukun bayi. Tapi sambil berangkat kami mampir ke bidan tempat imunisasi kemarin dan menceritakan kejadian semalam usai di imunisasi sambil minta pertimbangan apkah boleh kalau kami bawa ke dukun untuk di pijat. Dan bidan pun memberikan ijin asal bagian yang disuntik jangan di pijat.
Sampai di tempat dukun bayi kamipun menceritakan kronologi kejadian anak kami sambil minta pendapat bagusnya bagaimana. Lalu si dukun bayi mengatakan kalau ini di pijit nggak apa-apa, toh imunisasinya sudah kemarin jadi obatnya sudah larut. Dan kamipun mempersilahkan agar anak kami di pijit.
Sesudahnya lalu kami pun pulang. Badan anak kami makin panas, muntah terus disertai diare yang nggak henti-henti. Aku panik menghadapi itu sedirian. Tapi yang bikin aku agak tenang adalah disaat seperti itu anakku masih bisa tertawa-tawa sambil bilang ma'em. Aku masih terus kasih susu supaya perutnya nggak kosong.
Karena diare dan muntah serta panas yang nggak juga turun aku coba kembali bawa ke bidan. Disana diukur suhu anakku pencapai 40,5 dan anakku masih bisa tertawa subhanallah...sungguh kamu tegar sekali nak.
Kami pun pulang bawa obat dan alhamdulillah muntah-muntah nya mulai reda. Hingga akhirnya jam 2siang aku mau beri dia makan tapi tatapan anakku kaya nggak fokus. Aku langzung bawa lari ke puskesmas dan langsung di rujuk ke rumahsakit.
Sekitar perjalanan setengah jam ke rumah sakit saya rasa anak kami masih biasa-biasa saja. Tapi sampai di UGD anak kami langsung nggak sadarkan diri. Aku coba bertanya pada dokter kenapa anakku sampai begini. Apakah efek dari imunisasi? Tak ada jawaban dari dokter. Malah disuruh terus berdo'a supaya diberi kesembuhan oleh Allah. Dan kami hanya bisa berdo'a memohon kepada Allah. Tapi mungkin Allah berkehendak lain, anak kami nggak kunjung siuman. Hingga doktet menyarankan untuk dibawa ke rumahsakit besar yang mempunyai alat fentilator untuk membantu pernafasan jika nantinya tetjadi gagal nafas.
Setelah lobi sana nini untuk mencari rumahsakit yang kosong, terpilih lah satu rumah sakit di semarang yang mempunyai peralatan memadai. Disana saya langsung di sodorkan surat-surat untuk saya tandatangani. Yang isinya antara lain adalah menyerahkan wewenang untuk di tangani oleh tim dokter, juga pemasangan alat serta pemberian obat dan lain- lain termasuk kesanggupan biaya. Tanpa pikir panjang aku tandatangani semuanya. Yang penting anak saya bisa sembuh. Padahal saat itu aku nggak punya uang, tapi apapun akan saya lakukan untuk kesembuhan anak saya termasuk nyawa pun akan aku berikan. Setelah itu masuklah anakku di UGD. Disana anakku nggak juga mengalami perubahan. Malah makin drop hingga harus di pasang fentilator atau alat bantu nafas. Seakan-akan nggak tega aku melihat anakku dipakaikan alat-alat seperti itu. Anak sekecil itu, darah dagingku, terkapar di UGD yang dingin, tangannya penuh tusukan infus, mulutnya     dimasukin selang-selang oksigen dan fentilator. Masyaa Allah tak tega aku menyaksikan itu semua. Rasa-rasanya dunia ini mau kiamat aja.
Semalaman anakku di UGD nggak makin membaik malah kondisinya makin menurun. Hingga esok hari jam5 pagi  anak saya di periksa katanya sudah nggak ada respon caha. Dan doktet menganjurkan supaya kami semua berpamitan dan minta ma'af. Dan akan melepas alat fentilator(alat bantu nafas) karena sebenarnya anakku sudah meninggal tapi tubuhnya masih hidup katena fentilator. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun... Setelah fentilator di lepas anak kami pun benar-benar dinyatakan meninggal. Kami semua menangis. Tak menyangka anak kami akan meninggal semudah itu.
dua hari setelah di imunisasi anakku meninggal
Tapi ini semua sudah ketentuan dari sang Khaliq. Kami hanya bisa menjalaninya dan berusaha untuk tabah dan mengiklaskan kepergian anak kami. Semoga kelak kami dapat bertemu kembali dalam surgaMu yaa Allah. Aamiin...